Abadi Jiwaku, untukmu II Mengenang Alm. Opa Thomas Wangur


Abadi Jiwaku, untukmu 
Hujan di awal bulan April pelan-pelan redah. Langit gelap mulai terang, pertanda awan rindu akan datangnya musim semi mulai nampak. Suara suara alam bergantian menyapa bumi. Hembusan angin sepoi-sepoi berziarah ke timur. Gemuruh cakrawala menggelegar seakan membuka pintu surga. Benar. Paskah Tuhan hampir tiba. Haleluya sukacita jiwaku.  Terpujilah Tuhan selama-lamanya. 

Ketika senja menjelang menjemput malam. Aku mendengar  gelombang pantai selatan Cepi Watu tidak biasanya tenang. Riuh ombak yang meninggal buih putih tidak tampak lagi. Perahu nelayan tidak lagi menebarkan jalanya. Lalu, Aku menatap ke utara, lukisan  alam hamparan sawah Waereca bernas menguning nan emas. Segerombolan  burung pipit pulang ke sarang. Aku seperti melihat ruang kosong kehidupan. Sayup adzan mulai berkumandang.  Ah, Senja hampir tiba. “berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamana waktunya tiba..(bdk. Mat 24:36-44). “Bapa ke dalam tanganMu Aku menyerahkan rohku (bdk. Luk 23:46). Dingin menembus ke tulang. Tuhan yang memberi, Tuhan pula yang mengambil. Pukul 00.24 wita semuanya hilang.  Jiwanya berpisah dari badan.    

Mendung  hitam bergentayangan di jiwaku. Langit hujan dan jiwaku berkabung. Suara tangisan anak-anaku, keluargaku, cucu-cucuku merobek telinga jiwaku. Kata demi kata mengalir terucap dari bibir hati “papa aku rindu tawa dan candamu lagi, “papa aku nu ite,. Waktu itu misterius. Datang dan pergi. Sementara aku duduk dalam pilu, melihat  raganya terbaring tak berdaya. Raut wajahnya yang dulu perkasa kini tinggal kenangan. Suaranya yang lugas dan lembut kini hilang, takku dengar lagi. Tempat mengadu segala sendu, tempat berlabuh segala rindu kini telah kaku.  Sosok tubuhnya yang tegar dan penuh kelembutan dibungkus dengan lembaran  duka. Karyamu yang jujur didupai dengan kemenyan surgawi. Amal kasihmu direciki dengan embun berkat.  Sunyi. Sepih.  Hanya namamu terukir indah di hatiku.
 
Ket. Foto Opa Thomas bersama keenam anak//28.Des2019.

Langkahku hampir pupus menghantarmu menuju rumah abadi. Air mataku berlinang, jatuh tergenang di kedua  telapak tanganku.   Namun dalam iman akan Yesus Kristus, hatiku kuat dan percaya, Ia sudah hidup di langit yang baru dan bumi yang baru. Bersama Yesus memikul salib dari Getzemani hingga ke puncak Golgolta. Berjumpa Yesus dari muka ke muka. Mengikuti perjamuan surgawi bersama Yesus dan rasul-rasulNya. Dalam iman pada hari ketiga ia bangkit  bersama Cahaya Paskah Kristus. Cinta kami tak mati.   


                                          Ket Foto. Acara Leko Tinu 28Des2019/09.30 Wita

Semilir angin pantai Cepi Watu menerpa mesra. Pagi ini aku terbangun dari lelap. Cahaya fajar membawaku kembali pada dinginya malam sepi. Tanpa kusadari sudah tiga hari kita berpisah Ayah. Sekarang tinggalah rindu. Tak ada lagi tempatku mengadu pilu. Meski kini kita tidak lagi bersua. Kebahagian dan kebersamaan itu kini tinggal kenangan  Semoga engkau tenang di Surga. Cinta kita abadi. Cinta hingga maut memisahkan. Untuk setiap waktu tersisa, sedalam rasa tak hentinya kukirimkan doa. Abadi Jiwaku, untukmu Opa Thomas Wangur.
  
*Penulis Ino Sengkang, Editor Endang Bambu //Sabtu Suci, 11 April 2020.

*Mengenang tiga malam kematian ayah, opa tercinta Thomas Wangur dalam usia 88 tahun (+Rabu,  08 April 2020, pukul 00: 24 dan Ibadat pemakaman oleh Pater Marsel SVD pada Kamis Putih, 09 April 2020,pukul 12.24. Semoga kelurga yang ditinggalkan senantiasa dikuatkan. Amin.
*foto diambil dari akun fb mama Tat Wangur.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Molas Kala Rana II Endang Bambu dan Ino Sengkang II moment Tunangan 25 April 2020

Rintihan Kesunyian telah Hilang II Ino Sengkang untuk Kekasih Endang Bambu

Ledalero Gadis Kebijaksanaan, Wanita pujaanku|| puisi untuk kekasih jiwaku