"Sayang" Satu Kata Untukmu || Creative Writting Ino Sengkang
Tiba-tiba
munculah sebuah percakapan yang menarik di pagi Rabu 01 April 2020. Sayang boleh tidak duduk di sampingku. Ada bulpoint
di sini dan tulislah satu kata untukku di kertas putih ini. Cukup satu kata
saja. Tidak boleh lebih. Tidak sulitkan sayang, hanya satu kata. Ia satu kata
saja sayang, tidak lebih dari satu kata. Bukan kalimat, hanya satu kata saja. Dengan
suara lirih manja, Ia menatapku Iiiih, sayang, kurang kerjaan saja. Kok hanya satu kata saja? tentang kamu kan tidak
dapat diucapakan dengan kata-kata, tidak ada seribu kata di kamus hati ini yang
dapat mewakili perasaanku untukmu. Kedengaranya agak lebay tetapi begitulah
fakta yang terjadi ketika rasa tidak
dapat berkata bohong. Apalagi hati yang berbicara. Ah..
Sambil
menatapku dalam diam Ia menuliskan satu kata ini untukku. Ini sebenarnya
rahasia, tidak boleh dietahui publik. Kata yang syarat makna. Kata yang biasa
namun tidak biasa diucapkan dikalangan penggemar di rumah. Kata yang diawali
fonem S. Satu kata saja sebenarnya tidak sulit namun Ia sedikit gugup dan
gemetaran ketika menulis satu kata ini. Ingin tahu kata Apa yang ditulisnya?
Ingin mengenal bagaimana kata ini bias terucap? Dan apa makna tersirat dibalik
kata yang ditulisnya ini?. Simak satu kata ini.
“Sayang”.
Ini kata yang kutulis untukkmu. Sambil meneguk kopi setengah manis dan setengah
pahit ini, ku coba mengetahui apa alasan Ia memilih kata “Sayang”. Sembari saya
mengapresiasi kata “Sayang” dengan senyuman yang manis. wachhh… sayang ini kata
yang luar biasa, jarang sekali saya mendengarnya pada musim kemarau. Apa hubunganya
dengan musim kemarau? Gumangku dalam hati…heheheh.
Terimakasih
untuk kata “Sayang” ini. Saya juga sayang kamu. cieh. Sambil mendaratkan
beberapa bingkisan senyum. “Sayang e, tulis lanjut dari satu kata ini menjadi satu kalimat e. Ya, satu kalimat saja.
Tidak lebih juga tidak kurang. Satu kalimat. Satu kata saja tidak sulit, apalagi
satu kalimat, lagian sayang kan seorang
guru, gampang saja. Pelan-pelan merayu. Alhasil
satu kalimat itu mampu diciptakan dalam waktu dan tempo yang
sesingkat-singkatnya. Membaca kalimat
itu, rasa-rasanya ingin kembali berlibur lebih lama lagi di tanah kelahiranYesus-di
Kota Betlehem dan berkeliling di tanah suci Vatikan, namun apalah daya mimpi
ini hanya sebatas mimpi sebab mimpi pun dilarang untuk keluar rumah, lock down.
Mimpi di rumah saja, di luar ada virus Corona. Hehehe.
Saya
tuliskan kalimat itu di paragraf ini bunyinya demikian: “ Sayang, engkau begitu
menarik, ketika di depan komputer sambil meneguk kopi buatanku pagi ini. Membaca
kalimat ini memang benar, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ingin
melompat tinggi-tinggi apalah daya berat badan kurang ringan. Ingin memeluk
dirinya namun “Jaga Jarak”. Nasib-nasib, hanya Corona yang mampu membatasi
ruang gerak jiwa kita. Ehemmm. One Nai Kaut.
Tiba-tiba terdengarlah suara dari langit hati sambil bergema “Oh..Tuhan
ku Cinta Dia, Ku sayang Dia, Ku Rindu Dia. Sayang bagus sekali, ini kalimat
yang benar-benar datang dari hati seorang kekasih. Baru satu kalimat, belum
lagi satu paragraph. Tidak dapat
kubalas.
Dari
satu kata, menjadi satu kalimat. Kemudian saya memintanya lagi untuk menuliskan
satu paragfraf. “Sayang boleh tidak kembangkan satu kata dan satu kalimat tadi
menjadi satu paragraph,? Boleh, sayang,” jawabnya manja. Hatiku makin bergetar.
Ingin tahu apa isi ungkapan hatinya yang terucap pada tulisan selanjutnya. Satu
kata dan satu kalimat saja mampu membuatku
melayang-layang apalagi jika di tuliskan dalam satu paragfraf.
Tidak
lama, bulpoint di jari manisnya mulai menari-nari di atas kertas putih
mengikuti alunan melodi instrument Taize yang saya putarkan. Dalam satu tarikan
nafas, satu paragraf pun kelar. Coba sayang baca ini,
“
Sayang. Sayang engkau begitu menarik ketika sedang di depan komputer sambil
meneguk kopi buatanku pagi ini. Hemm, lebih menarik lagi kalau sayang tersenyum
sambil menatapku. Hati ini makin bergetar membuat saya tambah jatuh cinta. O, ya sayang. Kopi yang kubuatkan setengah
manis dan setengah pahit. Itu memang Kopi kesukaan sayang. Tapi sebenarnya filosofi
kopi telah mengajarkan kepada kita bahwa dalam kehidupan ini ada manis dan pahitnya.
Tidak perlu kwatir sayang. Kalau dicampur dalam Doa dan Keyakinan Iman
semuanya akan terasa nikmat. Terima kasih sayang sudah mengatakan kopinya enak,
ya sudah kuduga karena aku peracik kopi yang handal. Sayang, bukan hanya kopi
yang kubuat tetapi aku juga selalu menemani sayang di sini dan selamanya”.

Komentar
Posting Komentar