Seberkas Cahaya


Ia bukan Tuhan
Bahkan bukan malaikat
Ia lilin yang mampu menerangi seribu insan
di dalam gubuk sederhana yang gelap gulita

Ia ku-ibaratkan bumi yang mampu 
menampung ratusan, jutaan, ribuan kaki
Yang berpijak di dalamnya
Ia ku-sepertikan mana
sumber hidup untuk kehidupanku

Huh....aku sudah kehabisan kata-kata
Untuk mendeskripsikan tentang dirimu
Aku kehabisan tinta dan kanvas
untuk melukiskan wajahmu yang tulus

Akh
Senja tidak akan pernah hadir
Kalau tidak ada fajar yang mengawali hari-hariku
Hmmmm
Senja ialah aku
Gubuk sederhana ialah lembaga pendidikan-ku
Seberkas cahaya dan fajar yang aku maksdud ialah GURU...

Ia tak pernah kenal lelah
Apalagi putus asa...
Selalu membagi dan memberi apa yang di miliki
Tidak memandang kepada siapa ia akan memberi
Tetapi satu tujuan intinya ialah: agar apa yang diberi dapat bermanfaat bagi yang menerimanya
Ialah aku sebagai anak didiknya.....

Guru....
Senyum-mu adalah bahagia-ku
Senyum-mu adalah cahaya-ku
 Senyum-mu adalah sumber pengetahuan-ku
Dan senyum-mu adalah segala-galanya bagi-ku
Guru...kebaikan-mu tidak dapat ku lukiskan dengan kata-kata

Terima kasih seribu ku ucapkan untuk-mu Guru
Walau terkadang sifat dan sikap-ku
Menggoreskan seribu luka dihati-mu
Dengan segenap jiwa dan raga
Aku memohon maaf atas semuanya itu....

Guru......
Di hati-mu yang mulia
Kutemukan seberkas cahaya yang menerangi langkah demi langkah-ku untuk menuju pada sejatinya hidup-ku yang sesunggunya.....


Puisi
Karya "Yosefina Sartika Indah"
Minggu, 24 November 2019
Pukul 21.00

#CakrawalaNTT
#SahanatPenaLiterasišŸ‘†

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Molas Kala Rana II Endang Bambu dan Ino Sengkang II moment Tunangan 25 April 2020

Rintihan Kesunyian telah Hilang II Ino Sengkang untuk Kekasih Endang Bambu

Ledalero Gadis Kebijaksanaan, Wanita pujaanku|| puisi untuk kekasih jiwaku